Friday, November 27, 2009

WEEKLY STORYTELLING WITH POETRI SOEHENDRO


SETIAP HARI MINGGU - PUKUL 14.00

SUMMARECON MALL SERPONG

TEMPAT: CIRCUS TOWN (DEKAT PERIPLUS & PAPERCLIPS)

GRATIS! BANYAK HADIAH! BANYAK GAMES!

AKU TUNGGU YA...

UNDANGAN MENDONGENG DARI ADE PURNAMA – SAHABAT MUSEUM





Pertama kali bergabung dengan milis Sahabat Museum sekitar 3 tahun yang silam, sudah ada keinginan yang besar untuk menyumbangkan dongeng pada kegiatan teman teman di Sahabat Museum. Sebuah angan yang selalu saya ukir setiap saat dan setiap waktu.
Karena saya selalu percaya, segala sesuatu pasti ada waktu yang tepat… Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan yang tepat.

Sebuah sms pendek saya terima dari Ade Purnama yang berisi permintaan untuk mendongeng untuk kegiatan Sahabat Museum. Tidak perlu terlalu panjang saya untuk berpikir. Partner kerja saya pun paham dengan cita cita yang sudah terlalu lama saya pendam.

Pada suatu malam, Adep muncul dirumah membawa buku tentang arsitek stasiun beos yang bernama lengkap IR FRANS JOHAN LAUWRENS GHIJSELS, seorang pemuda kelahiran Tulung Agung. Malam itu saya dan Adep berbicara panjang lebar tentang stasiun Beos, kegiatan Sahabat Museum (yang selalu saya kagumi) dan angan angan kami berdua untuk berkolaborasi lebih jauh lagi. Saya tidak pernah berjumpa dengan Adep sebelumnya, namun malam itu seakan kami telah akrab dan sudah kenal lama sekali. Mungkin kami berdua diikat oleh sejuta mimpi yang harus kami sendiri mengerjakannya.

Minggu 8 November 2009 akhirnya tiba. Setiap pori dalam tubuh saya begitu bergairah menghadapi kegiatan ini. Saya akan mendongengkan kisah hidup sang arsitektur yang luar biasa. Seorang arsitek muda yang harus menghadapi kehidupan di Batavia bersama istri dan kedua putrinya yang sangat ia cintai. Ia mendesign stasiun Beos dalam sebuah kesepian yang mencekat karena istri dan kedua putrinya harus ia kirim kembali ke Eropa. Nampaknya Batavia terlalu “buas” untuk nyonya dan noni Belanda ini.

Ia bukan penjajah Belanda yang jahat yang sering kita lihat di film atau di sinetron. Ia adalah seorang pencinta keindahan – seni dan memiliki dedikasi yang luar biasa. Saya jatuh cinta pada Ghijsels. Saya ungkapkan proses jatuh cinta saya pada Ghijsels dalam dongeng saya… supaya Sahabat Museum mengetahui ada banyak orang hidup untuk RASA dan CINTA.

Untuk Adep, terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Semoga Sahabat Museum semakin dapat melakukan kegiatan yang lebih hebat di kemudian hari.

WORKSHOP DONGENG II TOYOTA - ARENA PEKAN RAYA JAKARTA




Big surprise! Waktu di undang oleh pihak Toyota untuk kembali memberikan workshop singkat tentang dongeng di Pameran Mobil & Motor di Arena Pekan Raya Jakarta. Nampaknya, pihak Toyota betul betul memiliki sebuah minat yang serius di bidang mendongeng. Undangan kali ini dari beberapa milis yang ada. Dan, juga tentunya beberapa media.

Waktu yang diberikan teramat singkat untuk mengungkap kan 1001 keajaiban cerita. Namun, untuk pendongeng seperti saya, undangan ini seperti sebuah oase di padang gurun.

Hati dan jiwa saya, berbicara berkobar dan berusaha meraih hati para pengunjung yang paling dalam untuk mengerti keajaiban sebuah cerita bagi anak.

Semoga bermanfaat dan semoga di praktek kan pada anak anak mereka. Semoga…
Seandainya mereka tahu betapa hati ini ingin bercerita lebih panjang… Seandainya…

Wednesday, September 09, 2009

DONGENG DAN WORKSHOP DONGENG DI GOELALI FESTIVAL



PANAS DAN DEMAM DI MUSEUM MANDIRI

Merupakan sebuah kehormatan bagi saya dan Elena Zachnas, mendapat kesempatan membuka Festival Film Anak Goelali Foundation dengan menggelar workshop dongeng di Museum Mandiri lantai 3. Sebagai orang yang hidup di Jakarta Selatan, perjalanan menuju Museum Mandiri adalah sebuah siksaan. Jauh, panas, macet… walaupun di hari Minggu. Ditambah badan sedang demam dan batuk, perjalanan menuju Museum Mandiri sungguh sebuah PR tersendiri.

Sampai di Museum Mandiri, saya sungguh surprise berjumpa dengan banyak teman saya yang tinggal di Jakarta Selatan hadir disana. Mereka tidak hanya nonton film, namun juga aktif mengikuti beberapa workshop yang digelar hari tersebut. Karena selain workshop dongeng, ada juga workshop membuat animasi dan workshop menulis script. Selain teman teman dari selatan, saya juga melihat kehadiran beberapa keluarga Corps Diplomatic berpartisipasi dalam acara ini. Waaah…seru sekali!
Demam jadi hilang ketika saya melihat keluarga2 berjalan santai sambil menenteng si kecil yang menggenggam balon berkeliling museum. Indah sekali… demam menjadi hilang seketika!

Lokasi saya mendongeng dan menggelar workshop ada di lantai 3 Museum Mandiri. Tidak mudah untuk mencari kelas tersebut. Mendadak demam lagi! Mana mungkin mereka bisa menemukan kelas dongeng saya?

Tapi, surprise!! 15 menit menuju jam pertunjukan, berbondong – bondong saya melihat keluarga keluarga kecil hadir sambil menggendong putra putri mereka. Senang sekali! Walau jatah mendongeng hanya 30 menit, tapi situasi, suasana, sound system dan volunteer Goelali Foundation sungguh mendukung. Sekali lagi, demam mendadak hilang selama mendongeng. The magic of story!

Workshop dongeng berlangsung diruang yang sama setelah geser menggeser beberapa kursi supaya layar bisa dilihat dengan nyaman. Semua antusias… semua semangat. Tapi, mendadak demam terasa dikening. Karena ketika saya tanya, adakah diantara pengunjung yang hadir sebagai orang tua? Murni hadir sebagai ayah atau sebagai ibu?? Jawabannya TIDAK ADA!

Peserta workshop dongeng kebanyakan hadir karena pekerjaan mereka sebagai guru taman kanak2, guru sekolah minggu, pembimbing Taman Pendidikan Alqur’an… Tentu saja diantara mereka ada yang sudah menjadi orang tua. Namun, dorongan untuk hadir bukan karena jabatan mereka sebagai orangtua! Mereka hadir karena ingin memperbaiki diri sebagai guru. Demam kembali menyengat tubuh dan kalbu ku… Ternyata masih banyak orang tua yang menganggap penting bercerita untuk anak anaknya... Wah...sedih!

Sunday, August 09, 2009

DONGENG DAN WORKSHOP DONGENG DI GOELALI FESTIVAL



GOETHE INSTITUTE – BIG, COLD AND NICE WORKSHOP ROOM

Saya selalu kagum dengan ruang teater di Goethe Institute. Besar, dingin, sound system dan akustik baik sekali. Saya pernah menjadi MC di ruangan tersebut dan sangat menikmati tugas MC saya karena hal tersebut. Jadi, waktu saya mengetahui bahwa saya akan memberikan workshop di ruangan tersebut, saya sungguh bersemangat.

Sebelum workshop, saya memberikan dongeng diruang pamer depan. Sound systemnya baik juga baik, dan hal ini selalu membuat otak saya menjadi lebih cerdas merangkai cerita. Entah mengapa, tapi memang selalu begitu. Penontonnya mulai dari kelompok ibu dan anak, kelompok ayah dan anak, termasuk anak anak dari sekolah alam Dik Doank dan beberapa penonton partisipan yang kebetulan sedang hadir di Goethe. Seperti biasa, durasi mendongeng 30 menit dan dilanjutkan dengan workshop mendongeng selama 3jam.

Ruang teater Goethe memang tidak penuh dengan peserta, tapi cukup terisi separuhnya. Dan, hal tersebut sudah cukup menggembirakan hati saya. Harapan untuk melihat hadirnya para ayah dan ibu sudah saya kubur dalam dalam sebelum saya demam karena kecewa.

Setelah memberikan workshop dan bicara dari hati ke hati bersama peserta workshop, ada kegembiraan dihati setelah mengetahui bahwa banyak sekali para guru yang berniat bercerita di kelas. Waah….dibandingkan saya memberikan workshop 6 tahun yang lalu sungguh keadaan yang berbeda! 6 tahun yang lalu saya pernah memberikan workshop di sebuah sekolah dimana pesertanya hadir hanya karena ingin mendapat uang transport sebesar Rp. 50.000,-.

Ada beberapa peserta workshop dongeng yang berkenan di hati saya, misalnya kehadiran seorang pria yang mengaku berprofesi sebagai guru di Depok. Beliau selalu bercerita setiap hari dalam kelas kelasnya. Gayanya seperti seniman, dan suka tampil mendongeng secara free lance dalam beberapa acara di mall.

Ada sepasang orang tua muda yang mengikuti workshop dengan mata bersinar bersemangat. Pandangan mereka berdua memberikan spirit yang luar biasa untuk saya dan Elena yang memang sedang tidak terlalu sehat karena kami berdua sedang demam. Selanjutnya kami berteman melalui Facebook.

Ada seorang ayah yang datang sampai dua kali ke Goethe untuk mengikuti dongeng saya. Ia tidak lupa membawa dua orang putrinya yang cantik. Istrinya sibuk di kantor, jadi ia merasa ini adalah tugasnya yang harus dia emban sebagai ayah. Salut! Pertemanan kamipun berlanjut sampai Facebook.

Terima kasih yang tidak terhingga kepada Goelali Foundation yang memberikan ruang berekspresi yang luar biasa untuk saya dan Elena Zachnas partner kerja saya. Salut kepada Ula, Dina dan Chicha Koeswoyo dengan pemikiran besar dan eksekusi yang sederhana namun membumi. Doa saya semoga Goelali Foundation akan terus melakukan kegiatan kreatif seperti ini dimasa mendatang…

Thursday, July 09, 2009

CATATAN PINGGIR: PERTANYAAN MENGGELITIK



Ada beberapa pertanyaan menggelitik yang saya peroleh sepanjang workshop. Selain membuat saya tersenyum, pertanyaan pertanyaan ini membuat saya melakukan perenungan panjang...

BAGAIMANA SAYA BERCERITA TENTANG YESUS DAN 12 MURID NYA KEPADA ANAK USIA 5THN?
(saya tertawa, dan berharap semoga keponakan2 saya tidak memiliki guru sekolah minggu seperti guru ini!!)

SAYA MAU ANAK SAYA MENGENAL ARTI "SUSAH" SEJAK KECIL, SAYA HARUS BERCERITA APA?
(saya tertawa hingga susah di stop! Jawab saya,"Bu...hidup di Indonesia ini susah, jadi anak ibu masih punya waktu puluhan tahun untuk mengenal konsep hidup "susah".)

SAYA INGIN MENGENALKAN "KEMATIAN" PADA ANAK SAYA, SAYA HARUS BERCERITA APA?
(saya tidak saja tertawa, tapi sampai terbatuk - batuk mendengar pertanyaan ini. Dari sekian ajaran yg harus diperkenalkan pada anak, mengapa harus mengajarkan "kematian" dulu?).

CATATAN PINGGIR: KETEMU ANAK ANAK IPB


Kelompok ini hadir di Goethe Institute. Mau ngapain anak anak IPB ini? Ternyata mereka berniat membuat sebuah rumah singgah untuk menampung anak anak terlantar di kota Bogor. Walaupun baru rencana, namun saya senang mendengarnya...

Semoga rencana mereka tidak tenggelam ditelan masa karena kesibukan mereka membuat tugas dan ujian...
Inilah foto mereka...
Apakah aku akan berjumpa lagi dengan mereka kelak?

CATATAN PINGGIR: FESTIVAL FILM ANAK - GOELALI FOUNDATION


TAMAN BACAAN YANG HILANG!

Diatas adalah foto saya bersama sekelompok anak anggota sebuah taman bacaan bersama para pengasuh mereka. Yang membuat sedih dan miris, ternyata taman bacaan mereka telah tutup. Sederhana sekali penyebabnya... tidak ada biaya...buku2 rusak...ditinggalkan donatur... dan tidak ada yang peduli.

Namun, para pengasuh mereka masih setia kepada anak anak ini. Mereka menggiring anak anak mereka untuk menikmati berbagai suguhan gratis yang di persembahkan oleh Goelali Foundation.

Inilah wajah wajah mereka...

Monday, May 25, 2009

WORKSHOP STORYTELLING WITH POETRI SOEHENDRO


HUBUNGI JOSEPHINE
0818 0833 8223
(subject: STORYTELLING REGISTRATION)

Saturday, May 23, 2009

FESTIVAL FILM ANAK BY GOELALI FOUNDATION - BE THERE!



KLIK GAMBAR UNTUK KETERANGAN LEBIH JELAS YA...

Friday, May 22, 2009