

GOETHE INSTITUTE – BIG, COLD AND NICE WORKSHOP ROOM
Saya selalu kagum dengan ruang teater di Goethe Institute. Besar, dingin, sound system dan akustik baik sekali. Saya pernah menjadi MC di ruangan tersebut dan sangat menikmati tugas MC saya karena hal tersebut. Jadi, waktu saya mengetahui bahwa saya akan memberikan workshop di ruangan tersebut, saya sungguh bersemangat.
Sebelum workshop, saya memberikan dongeng diruang pamer depan. Sound systemnya baik juga baik, dan hal ini selalu membuat otak saya menjadi lebih cerdas merangkai cerita. Entah mengapa, tapi memang selalu begitu. Penontonnya mulai dari kelompok ibu dan anak, kelompok ayah dan anak, termasuk anak anak dari sekolah alam Dik Doank dan beberapa penonton partisipan yang kebetulan sedang hadir di Goethe. Seperti biasa, durasi mendongeng 30 menit dan dilanjutkan dengan workshop mendongeng selama 3jam.
Ruang teater Goethe memang tidak penuh dengan peserta, tapi cukup terisi separuhnya. Dan, hal tersebut sudah cukup menggembirakan hati saya. Harapan untuk melihat hadirnya para ayah dan ibu sudah saya kubur dalam dalam sebelum saya demam karena kecewa.
Setelah memberikan workshop dan bicara dari hati ke hati bersama peserta workshop, ada kegembiraan dihati setelah mengetahui bahwa banyak sekali para guru yang berniat bercerita di kelas. Waah….dibandingkan saya memberikan workshop 6 tahun yang lalu sungguh keadaan yang berbeda! 6 tahun yang lalu saya pernah memberikan workshop di sebuah sekolah dimana pesertanya hadir hanya karena ingin mendapat uang transport sebesar Rp. 50.000,-.
Ada beberapa peserta workshop dongeng yang berkenan di hati saya, misalnya kehadiran seorang pria yang mengaku berprofesi sebagai guru di Depok. Beliau selalu bercerita setiap hari dalam kelas kelasnya. Gayanya seperti seniman, dan suka tampil mendongeng secara free lance dalam beberapa acara di mall.
Ada sepasang orang tua muda yang mengikuti workshop dengan mata bersinar bersemangat. Pandangan mereka berdua memberikan spirit yang luar biasa untuk saya dan Elena yang memang sedang tidak terlalu sehat karena kami berdua sedang demam. Selanjutnya kami berteman melalui Facebook.
Ada seorang ayah yang datang sampai dua kali ke Goethe untuk mengikuti dongeng saya. Ia tidak lupa membawa dua orang putrinya yang cantik. Istrinya sibuk di kantor, jadi ia merasa ini adalah tugasnya yang harus dia emban sebagai ayah. Salut! Pertemanan kamipun berlanjut sampai Facebook.
Terima kasih yang tidak terhingga kepada Goelali Foundation yang memberikan ruang berekspresi yang luar biasa untuk saya dan Elena Zachnas partner kerja saya. Salut kepada Ula, Dina dan Chicha Koeswoyo dengan pemikiran besar dan eksekusi yang sederhana namun membumi. Doa saya semoga Goelali Foundation akan terus melakukan kegiatan kreatif seperti ini dimasa mendatang…